Adik-adik rahimakumullah, Alhamdulillah pada Ramadhan yang lalu kita sudah mengenal 29 sifat-sifat terpuji. Pada Bulan Ramadhan ini kita mencoba mengetahui dan menggali tentang sifat- sifat tercela. Dengan harapan, selama Bulan Ramadhan adik-adik semua bisa mengetahui sifat-sifat tercela dan bahaya yang ditimbulkannya. Sehingga kita semua mendapat pahala yang sempurna dibulan yang penuh keberkahan dan ampunan ini.
Sifat tercela adalah sifat yang sangat merugikan diri sendiri maupun orang lain serta bertentangan dengan sunnah nabi dan ajaran Al-Quran. Pada hari ini kita akan mengetahui tentang sifat marah. Yuk budayakan membaca sampai selesai supaya Allah ‘azzal wa jalla memberkahi ilmu kita.
___________________________________________
Marah adalah perubahan dalam diri dibalut dengan emosi yang dibawa oleh kekuatan dan rasa dendam demi menghilangkan rasa gemuruh di dalam dada yang menyala-nyala.
Marah memiliki tanda-tanda zhahir. Dengan tanda-tanda ini kita dapat mengetahui bahwa seseorang sedang pada situasi marah, di antaranya:
- Mengejangnya urat dan otot disertai memerahnya wajah dan kedua mata;
- Wajah yang cemberut (muram) dan dahi yang mengerut;
- Permusuhan dengan orang lain melalui lisan, tangan, kaki, atau yang semisalnya;
- Membalas musuh dengan balasan yang setimpal dengannya atau lebih parah darinya, tanpa memikirkan akibat-akibatnya yang fatal dan seterusnya.
Dalam Islam, marah terbagi dua, marah yang terpuji dan marah yang tercela. Marah yang terpuji adalah bila dilakukan dalam rangka membela diri, kehormatan, harta, agama, hak-hak umum atau menolong orang yang dizhalimi. Marah yang tercela adalah marah sebagai tindakan balas dendam demi dirinya sendiri dan untuk memenuhi kebutuhan nafsunya.
Adik-adik yang hebat, orang yang kuat bukanlah orang yang memiliki badan yang besar atau otot yang kekar atau mampu melakukan travelling keseluruh dunia. Melainkan, mereka yang mampu menahan amarah. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Orang yang kuat bukanlah dengan bergulat, namun orang yang kuat itu adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari)
Siapapun kita, tentu pernah merasakan marah. Memang sifat marah merupakan tabiat yang tidak mungkin luput dari diri manusia, karena manusia memiliki nafsu yang cenderung ingin selalu dituruti dan enggan untuk diselisihi keinginannya.
Sifat marah merupakan bara api yang dikobarkan oleh setan dalam hati manusia untuk merusak agama dan diri mereka, karena dengan kemarahan seseorang bisa menjadi gelap mata sehingga dia bisa melakukan tindakan atau mengucapkan perkataan yang berakibat buruk bagi diri dan agamanya.
Berbeda dengan hamba-hamba Allah ta’ala yang bertakwa, meskipun mereka memiliki sifat marah, mereka selalu berusaha melawan keinginan hawa nafsu dan mampu meredam kemarahan karena Allah ta’ala. Allah ta’ala memuji mereka dengan sifat ini dalam firman-Nya,
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang menafkahkan (harta mereka) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS Ali ‘Imran: 134)
Mereka disakiti hatinya, dilemparkan fitnah-fitnah yang menyebabkan timbulnya kemarahan dalam diri mereka, maka mereka tidak melakukan sesuatu yang diinginkan oleh watak kemanusiaan mereka (melampiaskan kemarahan), akan tetapi mereka (justru berusaha) menahan kemarahan dalam hati mereka dan bersabar untuk tidak membalas perlakuan orang yang menyakiti mereka baik secara ucapan ataupun dengan tindakan, padahal mereka mampu untuk membalas. Semua dilakukan semata-mata untuk mendapatkan ridho Allah ta’ala.
Seorang mukmin yang terbiasa mengendalikan hawa nafsunya, maka dalam semua keadaan dia selalu dapat berkata dan bertindak dengan benar, karena ucapan dan perbuatannya tidak dipengaruhi oleh hawa nafsunya.
Menahan kemarahan adalah kunci kebaikan, karena dengannya akan melahirkan akhlak yang baik, yaitu: sifat lemah lembut, dermawan, malu, merendahkan diri, sabar, tidak menyakiti orang lain, memaafkan, ramah dan sifat-sifat baik lainnya.
Sebab-sebab yang bisa meredakan kemarahan dan menahannya dengan izin Allah ta’ala
- Berlindung kepada Allah Ta’ala dari godaan setan;
- Diam (tidak berbicara), agar terhindar dari ucapan-ucapan buruk yang sering timbul ketika orang sedang marah;
- Duduk atau berbaring, agar kemarahan tertahan dalam dirinya dan akibat buruknya tidak sampai kepada orang lain.
Semoga bermanfaat…
Wallahua’lam bisshowab…






WhatsApp