SDIK Imam An-Nawawi Aceh

  • Home
  • /
  • Nasihat Ramadhan (22) – Tamak

Nasihat Ramadhan (22) – Tamak

Adik-adik rahimakumullah, Alhamdulillah pada Ramadhan yang lalu kita sudah mengenal 29 sifat-sifat terpuji. Pada Bulan Ramadhan ini kita mencoba mengetahui dan menggali tentang sifat- sifat tercela. Dengan harapan, selama Bulan Ramadhan adik-adik semua bisa mengetahui sifat-sifat tercela dan bahaya yang ditimbulkannya. Sehingga kita semua mendapat pahala yang sempurna dibulan yang penuh keberkahan dan ampunan ini.

Sifat tercela adalah sifat yang sangat merugikan diri sendiri maupun orang lain serta bertentangan dengan sunnah nabi dan ajaran Al-Quran. Pada hari ini kita akan mengetahui tentang sifat tamak. Yuk budayakan membaca sampai selesai supaya Allah ‘azza wa jalla memberkahi ilmu kita.

___________________________________________

Tamak adalah sikap tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki, dan selalu ingin lebih. Orang yang tamak terlalu mencintai harta, semangat berlebihan dalam mencari harta, pelit dan iri dalam membelanjakan harta padahal untuk diri sendiri, merasa berat untuk mengeluarkan harta demi kepentingan agama dan sosial kemasyarakatan, mendambakan kemewahan dunia dan semua perbuatannya selalu dinilai dengan materi.

Manusia sangat mencintai harta dan akan terus senantiasa mencarinya walau harus dengan jalan yang salah atau tidak sesuai syariat. Manusia tidak merasa puas dengan yang sedikit, manusia sangat tamak kepada harta dan panjang angan-angan serta takut mati. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا

“Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 20)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa harta adalah fitnah, maka wajib bagi kita untuk waspada. Jangan sampai harta itu dapat membinasakan kita dan keturunan kita. Gunakanlah semua hartamu dijalan Allah. Karena orang yang tamak kepada harta mereka tidak akan menggunakannya di jalan Allâh walaupun sedikit. Penggila harta dan pecinta dunia mereka lebih mengutamakan dunia daripada akhirat. Tidak ada yang dapat mencegah keserakahan manusia, ambisinya dan angan-angannya kecuali kematian.

Mereka yang tamak akan harta pasti merasakan kegelisahan, keletihan dan penyesalan yang berkepanjangan. Sebagaimana Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

مُـحِبُّ الدُّنْيَا لَا يَنْفَكُّ مِنْ ثَلَاثٍ: هَمٌّ لَازِمٌ، وَتَعَبٌ دَائِمٌ، وَحَسْرَةٌ لَا تَنْقَضِى

“Pecinta dunia tidak akan terlepas dari tiga hal: (1) Kesedihan (kegelisahan) yang terus-menerus; (2) Kecapekan (keletihan) yang berkelanjutan; (3) Penyesalan yang tidak pernah berhenti.”

Adik-adik yang hebat, Kalau rasa tamak manusia dibiarkan berkembang, maka pasti tidak ada habisnya. Walaupun kapasitas/kemampuan dirinya tidak akan sanggup menampung semua rasa tamaknya. Inilah yang diingatkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, manusia harus pintar-pintar menimbang antara ambisi (rasa tamak) dengan kemampuan atau kapasitas diri. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Manusia selalu akan berharap dan meminta harta, namun tidak ada yang bisa dimiliki dari harta tersebut kecuali, harta yang sudah habis dimakannya; pakaian yang dipakainya sampai kumal; dan harta yang disedekahkannya, dan sedekah itulah harta yang akan kekal sebagai pahalanya di akhirat.” (HR. Muslim)

Harta paling banyak yang dimiliki seseorang adalah “rasa cukup”. Akan tetapi, hanya orang-orang “langka” yang memilki “harta” ini, yaitu, mereka yang merasa sudah cukup sehingga berani menolak pemberian untuk dirinya, bahkan meminta agar dialihkan ke orang lain saja.

Di antara orang langka tersebut adalah ‘Umar bin Khattab. Ketika beliau mendapatkan pemberian harta dari Rasulullah, beliau berkata: “Ya Rasulullah, berikan saja pada orang yang lebih miskin dari diriku.”

Semoga bermanfaat…

Wallahua’lam bisshowab…

Leave Your Comment Here

WhatsApp WhatsApp