SDIK Imam An-Nawawi Aceh

  • Home
  • /
  • Nasihat Ramadhan (25) – Putus Asa

Nasihat Ramadhan (25) – Putus Asa

Adik-adik rahimakumullah, Alhamdulillah pada Ramadhan yang lalu kita sudah mengenal 29 sifat-sifat terpuji. Pada Bulan Ramadhan ini kita mencoba mengetahui dan menggali tentang sifat- sifat tercela. Dengan harapan, selama Bulan Ramadhan adik-adik semua bisa mengetahui sifat-sifat tercela dan bahaya yang ditimbulkannya. Sehingga kita semua mendapat pahala yang sempurna dibulan yang penuh keberkahan dan ampunan ini.

Sifat tercela adalah sifat yang sangat merugikan diri sendiri maupun orang lain serta bertentangan dengan sunnah nabi dan ajaran Al-Quran. Pada hari ini kita akan mengetahui tentang sifat putus asa. Yuk budayakan membaca sampai selesai supaya Allah ‘azza wa jalla memberkahi ilmu kita.

___________________________________________

Putus asa adalah perasaan kehilangan harapan atau sudah tidak punya harapan lagi akan suatu tujuan. Seorang mukmin tidak boleh berputus asa. Allah ta’ala berfirman,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ

“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53)

Apapun yang kita alami teruslah berbaik sangka kepada Allah, buang rasa berburuk sangka kepada Allah. Separah apapun rasa sakit dan perih yang kita alami. Kita harus selalu meyakini bahwa yang terbaik adalah pilihan Allah ta’ala. Tidak ada masalah yang tidak ada solusinya. Karena Allah ta’ala tidak mungkin memberikan beban melebihi kemampuan manusia. Allah ta’ala berfirman,

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani manusia kecuali sesuai kemampuannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Ketika ada sesuatu yang kita tidak inginkan, namun terjadi pada diri kita, yakinlah bahwa itu yang terbaik untuk diri kita. Allah ta’ala berfirman,

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Kembalilah kepada Allah dan mintalah pertolongan kepada-Nya dengan sungguh-sungguh. Karena segala musibah dan cobaan itu dari Allah dan hanya Allah-lah yang bisa menghilangkannya, janganlah berputus asa. Allah ta’ala berfirman,

وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّـهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ

“Jika Allah menimpakan suatu mudharat kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Allah sendiri.” (QS. Al-An’am: 17)

Mintalah pertolongan kepada Allah dengan tulus dan jujur, Allah ta’ala akan menolong orang-orang yang meminta pertolongan kepada Allah dengan tulus dan jujur. Bukti bahwa kita meminta tolong kepada Allah dengan tulus dan jujur adalah dengan menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala bentuk maksiat. Jika itu dilakukan, maka Allah pasti akan memberikan jalan keluar walaupun menurut kita itu mustahil terjadi. Allah ta’ala berfirman,

ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزقه من حيث لا يحتسب

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar baginya. Dan akan memberinya rezeki dari jalan yang tidak ia duga.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

Namun, ketika jalan keluar belum kunjung datang, yang harus kita lakukan adalah terus berbaik sangka. Salah satunya dengan berasumsi bahwa ketakwaan kita selama ini masih ada yang kurang. Sebagaimana yang di katakan oleh Ibnu Abi Izz Al-Hanafi rahimahullah,

“Allah ta’ala menjamin bagi orang-orang bertakwa bahwa Ia akan memberikan jalan keluar dari perkara yang menyulitkannya dalam hubungan terhadap manusia. Dan Allah menjamin bahwa Ia akan memberikan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka. Jika itu belum terjadi, maka ini menunjukkan bahwa dalam ketakwaannya masih ada cacat. Maka hendaknya ia meminta ampunan kepada Allah dan bertaubat kepadaNya.” (Syarah Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah dengan ta’liq Syaikh Yasin Abul Abbas Al-Adeni hal. 333-334)

Adik-adik yang hebat, banyak ujian itu adalah kebahagian. Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam, “Pada hari kiamat, ketika orang-orang yang diuji diberi pahala, orang-orang ahlul ‘afiyah menginginkan seandainya kulit-kulit mereka di dunia dipotong-potong dengan gunting.” (HR. Tirmidzi no. 2402, dinilai hasan oleh Al-Albani)

Orang-orang ahlul ‘afiyah adalah orang yang hidupnya lancar-lancar saja, kaya, tidak pernah sakit, tidak pernah jatuh, tidak pernah bangkrut, intinya tidak pernah terkena masalah dalam hidupnya. Pada hari kiamat kelak, ketika mereka melihat pahala yang diberikan kepada orang yang hidupnya tertimpa musibah ketika di dunia dan bisa bersabar, maka ahlul ‘afiyah pun berharap kepada Allah ta’ala agar dia dikembalikan ke dunia, lalu tubuhnya digunting-gunting sehingga cacat dan hancur. Mereka berharap tersiksa di dunia, lalu mereka bisa bersabar, sehingga mereka bisa mendapatkan pahala sebagaimana orang-orang yang mereka lihat ketika di akhirat. Oleh karena itu, jangan berburuk sangka kepada Allah, jangan berputus asa akan nikmatnya, tapi teruslah optimis mencari solusi dan jalan keluar, atas apapun musibah dan ujian yang kita alami di dunia ini.

Semoga bermanfaat…

Wallahua’alam bisshowab…

Leave Your Comment Here

WhatsApp WhatsApp