SDIK Imam An-Nawawi Aceh

  • Home
  • /
  • Nasihat Ramadhan (28) – Durhaka

Nasihat Ramadhan (28) – Durhaka

Adik-adik rahimakumullah, Alhamdulillah pada Ramadhan yang lalu kita sudah mengenal 29 sifat-sifat terpuji. Pada Bulan Ramadhan ini kita mencoba mengetahui dan menggali tentang sifat- sifat tercela. Dengan harapan, selama Bulan Ramadhan adik-adik semua bisa mengetahui sifat-sifat tercela dan bahaya yang ditimbulkannya. Sehingga kita semua mendapat pahala yang sempurna dibulan yang penuh keberkahan dan ampunan ini.

Sifat tercela adalah sifat yang sangat merugikan diri sendiri maupun orang lain serta bertentangan dengan sunnah nabi dan ajaran Al-Quran. Pada hari ini kita akan mengetahui tentang sifat durhaka. Yuk budayakan membaca sampai selesai supaya Allah ‘azza wa jalla memberkahi ilmu kita.


Tidak termasuk durhaka jika kita mendahulukan kewajiban kepada Allah. Juga tidak termasuk durhaka jika kita tidak taat dalam maksiat. Taat kepada orang tua itu wajib dalam segala hal selain pada perkara maksiat. Apabila kita menyelisihi perintah keduanya dalam hal kebaikan itu termasuk durhaka.

Durhaka adalah sikap tidak patuh atau melawan perintah atau aturan yang telah ditetapkan. Baik kepada kedua orangtua atau kepada Allah ta’ala dan Rasul-Nya. Pada hari ini kita lebih mendalami sifat durhaka seorang anak kepada kedua orangtuanya. Supaya kita menjadi hamba yang lebih bersyukur atas anugerah terindah dengan diberikan ibu dan ayah, bagaimanapun kondisi kedua orangtua kita. Karena dari keduanya kita bisa lahir dalam kondisi muslim (beragama Islam).

Salah satu yang menyebabkan seseorang tidak masuk surga adalah durhaka kepada kedua orang tuanya. Orang yang durhaka kepada orang tuanya hidupnya tidak berkah dan selalu mengalami berbagai macam kesulitan. Kalaupun orang tersebut kaya maka kekayaannya tidak akan menjadikannya bahagia.

Seandainya ada seorang anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya kemudian kedua orang tuanya tersebut mendo’akan kejelekan, maka do’a kedua orang tua tersebut bisa dikabulkan oleh Allah ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ada tiga do’a yang dikabulkan oleh Allah ta’ala yang tidak diragukan tentang do’a ini. Yang pertama yaitu do’a kedua orang tua terhadap anaknya, yang kedua do’a orang yang musafir (yang sedang dalam perjalanan), yang ketiga do’a orang yang dizhalimi.” (HR. Bukhari)

Diantara bentuk durhaka (‘uquq) adalah:

  • Menimbulkan gangguan terhadap orang tua baik berupa perkataan (ucapan) ataupun perbuatan yang membuat orang tua sedih dan sakit hati;
  • Berkata “ah” dan tidak memenuhi panggilan orang tua;
  • Membentak atau menghardik orang tua;
  • Bakhil, tidak mengurusi orang tuanya bahkan lebih mementingkan yang lain dari pada mengurusi orang tuanya padahal orang tuanya sangat membutuhkan. Seandainya memberi nafkah pun, dilakukan dengan penuh perhitungan;
  • Bermuka masam dan cemberut dihadapan orang tua, merendahkan orang tua, dan mudah berucap kasar terhadap mereka seperti mengatakan bodoh, tidak becus dan lain-lain;
  • Menyuruh orang tua, misalnya menyapu, mencuci atau menyiapkan makanan. Pekerjaan tersebut sangat tidak pantas bagi orang tua, terutama jika mereka sudah tua atau lemah. Tetapi jika ‘Si Ibu” melakukan pekerjaan tersebut dengan kemauannya sendiri maka tidak mengapa dan karena itu anak harus berterima kasih;
  • Menyebut kejelekan orang tua di hadapan orang banyak atau mencemarkan nama baik orang tua;
  • Memasukkan kemungkaran kedalam rumah misalnya alat musik, mengisap rokok, dll.;
  • Mendahulukan taat kepada istri dari pada orang tua. Bahkan ada sebagian orang dengan teganya mengusir ibunya demi menuruti kemauan istrinya. Na’udzubillah; dan
  • Malu mengakui orang tuanya. Sebagian orang merasa malu dengan keberadaan orang tua dan tempat tinggalnya ketika status sosialnya meningkat. Tidak diragukan lagi, sikap semacam ini adalah sikap yang amat tercela, bahkan termasuk kedurhakaan yang keji dan nista.

Adik-adik yang hebat, jika ada azab yang Allah segerakan di dunia atas dosa kita maka dia adalah dosa karena durhaka kepada kedua orangtua, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam, 

“Dua perbuatan dosa yang Allah cepatkan adzabnya (siksanya) di dunia yaitu berbuat zhalim dan al’uquq (durhaka kepada orang tua).” (HR. Hakim)

Sebab-sebab anak durhaka kepada orang tua, antara lain:

  • Karena kebodohan;
  • Jeleknya pendidikan orang tua dalam mendidik anak;
  • Memperlakukan anak-anak secara buruk;
  • Orang tua menyuruh anak berbuat baik tapi orang tua tidak berbuat;
  • Ayah dan ibunya dahulu pernah durhaka kepada orang tua sehingga dibalas oleh anaknya;
  • Orang tua tidak membantu anak dalam berbuat kebajikan;
  • Minimnya ketakwaan kepada Allah tatkala terjadi perceraian; dan
  • Jeleknya akhlak istri.

Menguasai metode untuk mendidik anak-anak termasuk urusan yang paling penting dan harus mendapat prioritas yang lebih dari urusan yang lainnya. Anak merupakan amanat di tangan kedua orang tuanya dan hatinya yang masih bersih merupakan permata yang sangat berharga dan murni yang belum dibentuk dan diukir. Dia menerima apa pun yang diukirkan padanya dan menyerap apa pun yang ditanamkan padanya.

Jika anak dibiasakan dan dididik untuk melakukan kebaikan, niscaya dia akan tumbuh menjadi baik dan menjadi orang yang bahagia di dunia dan akhirat. Dan setiap orang yang mendidiknya, baik itu orang tua maupun para pendidiknya yang lain akan turut memperoleh pahala sebagaimana sang anak memperoleh pahala atas amalan kebaikan yang dilakukannya.

Sebaliknya, jika anak dibiasakan dengan keburukan serta ditelantarkan dia akan menjadi malapetaka terutama bagi kedua orangtua itu sendiri. Anak-anak akan durhaka kepada kedua orang tuanya. Penyebabnya adalah kedua orang tua itu sendiri, sebagaimana apa yang dikatakan oleh Abu Dzuab Al-Hadzli:

“Janganlah engkau marah terhadap suatu perbuatan yang engkau juga ikut melakukannya, sesungguhnya orang yang layak mendapatkan keridhaan adalah orang yang mengamalkan sunnah.”

Semoga bermanfaat…

Wallahua’lam bisshowab…

Leave Your Comment Here

WhatsApp WhatsApp