Ramadhan 15: Lapang Dada
Adik-adik rahimakumullah, mari kita mengenal berbagai sifat terpuji selama bulan Ramadhan. Sifat terpuji dapat memudahkan kita dalam melakukan berbagai macam amal sholih. Pada hari ini kita akan mengetahui tentang sifat lapang dada. Yuk budayakan membaca sampai selesai supaya Allah ‘azzal wa jalla memberkahi ilmu kita.
___________________________________________
Syekh Abdur Razaq bin Abdul Muhsin Al-Badr Hafidzhohullah menyebutkan bahwa lapang dada adalah rasa puas, rasa tenang, hilangnya rasa tidak nyaman dan masalah dari hati, serta terus menerus merasa bahagia di kehidupan yang mulia dan baik.
Diantara nikmat yang besar yang Allah berikan kepada seorang hamba adalah lapangnya dada. Maka dari itu Allah Ta’ala ketika mengingatkan nikmat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yang pertama kali Allah sebutkan adalah tentang lapang dada. Allah Ta’ala berfirman:
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ
“Bukankah Kami telah melapangkan dadamu?.” (QS. Al-Insyirah: 1)
Hati yang lapang menjadi kunci utama dalam berdakwah. Manusia yang didakwahkan sering memberikan respon berbeda-beda. Ada yang langsung menerima dan ada yang menolak. Allah Ta’ala menciptakan sifat dan sikap yang beragam. Dengan sifat lapang dada inilah menjadikan hati penuh dengan kesabaran disaat terjadi penolakkan terhadap dakwah tauhid ini. Hati yang lapang adalah hati yang pemaaf, hati yang lapang adalah hati yang dermawan, hati yang lapang adalah hati yang senantiasa tegar dan kuat di atas kebenaran, hati yang lapang adalah hati yang bahagia, dia tidak pernah berkeluh kesah. Hati yang lapang itu adalah hati yang penuh dengan ketentraman, tidak disertai dengan kekacauan hati ataupun kegalauan.
Karena hati ketika senantiasa berharap kepada Allah, hatinya akan lapang. Ketika sakit ia berharap ridha Allah, maka muncullah kesabaran. Ketika pelit, ia berharap kepada Allah, maka munculnya kedermawanan. Ketika hati sulit untuk memaafkan orang lain lalu ia berharap ampunan Allah dan keridhaan-Nya, maka muncullah jiwa pemaaf. Dan tidak mungkin itu bisa kecuali dengan mentauhidkan Allah Ta’ala.
Semakin seseorang tauhidnya kuat, semakin ia cinta kepada Allah, semakin ia beribadah hanya kepada Allah dan mengharapkan pahala Allah saja, tidak mengharapkan pujian manusia, tidak pula kehidupan dunia, maka di saat itulah hatinya semakin lapang.
Demikian pula salah satu sebab diantara penyebab hati kita lapang adalah dengan rutin dzikrullah. Seseorang yang banyak berzikir kepada Allah hatinya akan tentram. Dan ketentraman hati itu menimbulkan kelapangan dada. Allah berfirman:
الابذكرالله تَطْمَئِنُّ القلوب
“Ketahuilah dengan berdzikir kepada Allah, maka hati itu akan menjadi tentram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Lapang dada tidak akan bisa kita raih kecuali dengan taufik atau petunjuk dari Allah Ta’ala, dan pertolongan dari-Nya. Pemberian sifat lapang dada dari Allah ini tidaklah datang kepada seorang hamba, kecuali dengan cara mentaati-Nya dan konsisten di dalam menjalankan syariat-Nya.
Jika Allah Ta’ala telah mengaruniakan rasa lapang dada ini kepada salah satu hamba-Nya, maka itu pertanda bahwasannya Allah Ta’ala telah memudahkan urusannya. Sehingga akan mudah baginya untuk melaksanakan ibadah dan ketaatan, serta dimungkinkan baginya untuk selalu konsisten di dalam melakukan kebaikan.
Adapun jika Allah Ta’ala menyempitkan hati seorang hamba, maka urusan hamba tersebut akan menjadi kacau balau. Sehingga ia tidak bisa fokus di dalam menjalankan pekerjaannya, dan aktivitas kesehariannya tidak akan mengarah kepada kebaikan, bahkan ia akan selalu merasa khawatir dan sedih.
Ciri-ciri hamba yang Allah Ta’ala lapangkan dadanya:
- Menerima dan meyakini akan adanya akhirat atau alam keabadian;
- Menjauhkan diri atau mencukupkan diri dari hal-hal yang berkaitan dengan dunia yang fana ini;
- Menyiapkan diri dari kematian dan kehidupan setelahnya.
Sehingga bila terwujud tiga hal ini di hati seorang hamba, sungguh itu adalah tanda bahwa Allah melapangkan dadanya dan menenangkan hatinya. Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata:
“Disebutkan di dalam sebuah atsar yang terkenal, bilamana cahaya masuk ke dalam hati, maka hati tersebut akan merasa lapang dan menerima. Dikatakan kepadanya, ‘Apa tandanya?’ Dijawab, ‘(1) Mencukupkan diri dari dunia yang penuh tipuan; (2) condong kepada kehidupan abadi (akhirat); dan (3) menyiapkan diri menghadapi kematian sebelum kematian itu mendatanganinya.’”
Sepuluh sebab yang dianjurkan syariat untuk meraih lapang dada:
- Mengesakan Allah Ta’ala dan mengikhlaskan agama hanya kepada-Nya;
- Cahaya yang Allah Ta’ala karuniakan ke dalam hati hamba-Nya;
- Menuntut ilmu yang bermanfaat;
- Kembali kepada Allah Ta’ala dan menghadap kepada-Nya dengan sebaik-baik kondisi;
- Konsisten di dalam berzikir (mengingat Allah Ta’ala);
- Berbuat baik kepada hamba-hamba Allah;
- Keberanian dan kuatnya hati;
- Menjauhkan diri dari penyakit-penyakit hati dan racun-racunnya;
- Meninggalkan berlebih-lebihan di dalam semua aspek kehidupan;
- Mengikuti petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sebaik-baiknya.
Tahukah adik-adik, Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Salam adalah manusia yang memiliki hati paling lapang. Beliau sering disakiti, diancam, dicaci maki, menerima perbuatan dan perkataan yang kasar serta dijuluki orang gila. Puncak kesedihan, ketika istri tercinta dan paman beliau yang selalu mendukung dakwah beliau meninggal dunia. Sehingga kaum Quraisy bersikap lebih kejam kepada Rasulullah. Akhirnya Rasul memutuskan untuk berdakwah ke Thaif, sebuah daerah yang tidak jauh dari Makkah. Ternyata kaum tersebut benar-benar menolak ajaran yang di bawa oleh Rasul dengan sikap paling buruk. Mereka secara terkoordinir melempari batu bertubi-tubi keatas Rasulullah shalallahu’alaihi wa salam sampai Rasul berdarah. Dan Rasul membalas mereka dengan kata “Maafkan, sungguh mereka tidak tahu, semoga dari keturunan mereka lahir orang-orang yang beriman kepada Allah Ta’ala.” Mari kita dengarkan penuturan kisah ini dari ibunda Aisyah Radhiallahu ‘anhuma.
Dalam perjalanan sejarah Islam, Aisyah Radhiallahu ‘anhuma pernah meriwayatkan sikap lapang dada yang sangat fantastis pada diri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Aisyah Radhiallahu ‘anhuma bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Wahai, Rasulullah! Pernahkah engkau melewati suatu hari yang lebih berat dari peperangan Uhud?” Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, “Aku telah mengalami gangguan dari suatu kaum. Peristiwa yang paling berat kulalui. Aku mendatangi Ibnu ‘Abdil-Lail bin Abdi Kilal, namun ia tidak menyambutku. Aku bergegas pergi dalam keadaan sedih bukan kepalang. Aku baru menyadari ketika telah sampai di daerah Qarnuts-Tsa’alib. Aku angkat kepalaku, dan tiba-tiba terlihat awan yang menaungiku. Aku amati, dan muncullah Jibril seraya berseru, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mendengar perkataan dan penolakan kaummu. Allah Ta’ala telah mengutus malaikat penjaga gunung untuk siap engkau perintah.” Malaikat penunggu gunung pun memanggil dan mengucapkan salam kepadaku, seraya berseru: “Wahai, Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar penolakan kaummu. Dan aku penjaga gunung mendapat titah untuk menerima perintahmu sesuai dengan kehendakmu. Jika engkau mau, maka aku akan benturkan dua gunung ini di atas mereka”. (Mendengar seruan malaikat ini), beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam justru berkata: “Sesungguhnya aku berharap Allah akan mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang beribadah kepada Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan apapun.” (HR Muslim no. 4629)
Maasya Allah, betapa menakjubkan dan betapa indah perilaku Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Meskipun mendapat gangguan yang berat, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ternyata tetap membuka pintu maaf.
Semoga shalawat dan salam-Nya senantiasa tercurahkan kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabatnya sampai datang hari pembalasan.
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي
“Wahai Rabb-ku, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah semua urusanku.” (QS. Thaha: 25)
Wallahu a’lam bisshowab…






WhatsApp