Ramadhan 16: Bersyukur
Adik-adik rahimakumullah, mari kita mengenal berbagai sifat terpuji selama bulan Ramadhan. Sifat terpuji dapat memudahkan kita dalam melakukan berbagai macam amal sholih. Pada hari ini kita akan mengetahui tentang sifat bersyukur. Yuk budayakan membaca sampai selesai supaya Allah ‘azza wa jalla memberkahi ilmu kita.
___________________________________________
Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Bersyukur kepada Allah adalah memuji-Nya sebagai balasan atas nikmat yang diberikan dengan cara melakukan ketaatan kepada-Nya.” (Fath Al-Qadir, 4:312)
Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan, “Syukur haruslah dijalani dengan hati, lisan, dan anggota badan. Adapun al-hamdu hanyalah di lisan.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 11:135)
Syukur itu terdiri dari atas 5 prinsip, yaitu:
- Ketundukan orang yang bersyukur kepada yang member;
- Mencintai sang pemberi;
- Mengakui nikmatnya;
- Memuji sang pemberi atas nikmat tersebut;
- Tidak menggunakan kenikmatan tersebut pada sesuatu yang dibenci oleh yang memberi.
Inilah lima komponen asas syukur. Apabila salah satu dari lima hal ini hilang, maka rusaklah bangunan syukur tersebut.
Ibnu Abi Dunya rahimahullah meriwayatkan dalam kitabnya Asy-Syukur bahwa ada seorang laki-laki yang berkata kepada Abu Hazim Salamah bin Dinar, “Bagaimana bentuk syukur dari kedua mata wahai Abu Hazim?” Salamah bin Dinar menjawab, “Apabila dengan keduanya engkau melihat yang baik, engkau ceritakan kebaikan itu. Dan apabila dengan keduanya engkau melihat yang jelek, maka engkau rahasiakan kejelakan tersebut.”
Orang itu bertanya lagi, “Bagaimana syukurnya kedua telinga?” Lalu beliua menjawab, “Jika dengan keduanya engkau mendengarkan yang baik-baik, maka engkau terima. Jika dengan keduanya engkau mendengar kejelekan (maksiat), maka engkau tolak.”
Ia bertanya lagi, “Bagaimana syukurnya kedua tangan?” Salamah bin Dinar menjawab, “Jangan engkau gunakan keduanya untuk sesuatu yang bukan menjadi tujuan ia diberikan dan jangan engkau menolak hak Allah pada keduanya.”
Ia bertanya lagi, “Bagaimana bersyukurnya perut?” Beliau menjawab, “Engkau jadikan bagian bawahnya makanan dan bagian atasnya ilmu.” Ia kembali bertanya, “Bagaimana bersyukurnya kemaluan?” Kemudian Salamah bin Dinar menjawabnya dengan firman Allah ‘azza wa jalla,
وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ
“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Mukminun: 5-7)
Adapun orang yang bersyukur dengan lisannya namun tidak dengan seluruh anggota badannya, ia bagaikan seorang yang memiliki kain. Ia gunakan ujung kain itu, akan tetapi ia tidak memakainya. Kain itu tidak bermanfaat baginya di saat panas maupun dingin, saat hujan maupun salju.
Sesungguhnya bersyukur kepada Allah itu wajib bagi setiap muslim dan mukmin. Dan hal ini menjadi sebab langgengnya kenikmatan. Sebaliknya saat rasa syukur itu tidak ada, maka kenikmatan pun akan hilang.
Manfaat seorang hamba bersyukur, antara lain:
1. Barangsiapa yang bersyukur, maka manfaat dan pahalanya akan kembali kepada dirinya sendiri. Sebagaimana firman-Nya:
وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ
“Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri.” (QS. Luqman: 12)
2. Bersyukur dapat menambah nikmat dari Allah ‘azza wa jalla. Sebagaimana firman-Nya:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)
Kita akan dapati manusia yang bersyukur itu lebih bahagia walaupun sedikit harta yang dia miliki, dibandingkan dengan orang yang banyak harta tapi kufur akan nikmat Allah. Rasa ketidak puasan menjadikan dia terus merasa dalam kekurangan. Pada akhirnya mengakibat ia tidak bahagia dan larut dalam kesedihan, kecemasan serta terjerumus dalam sifat keserakahan.
Tahukah adik-adik, siapakah Luqman itu? Luqman adalah seorang hamba Allah yang pandai bersyukur. Nama dan kisahnya diabadikan oleh Allah ‘azza wa jalla di dalam Al-Quran.
Luqman adalah nama seorang lelaki. Mayoritas ulama menyebutkan bahwa Luqman bukan Nabi, tetapi seorang lelaki shalih yang Allah ta’ala karuniakan hikmah kepadanya. Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa para ulama beselisih pendapat apakah Luqman adalah nabi atau orang shalih yang bukan nabi. Mayoritas mengatakan bahwa Luqman bukanlah nabi. Beliau seorang lelaki yang bijaksana yang memiliki petunjuk yang lurus. Allah ta’ala karuniakan kepadanya banyak hikmah, sebagaimana firman Allah ta’ala:
يُؤتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْراً كَثِيراً
“Allah menganugerahkan Al-hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak.” (QS. Al Baqarah: 269)
Terdapat banyak perbedaan pendapat mengenai profesi Luqman. Ada yang menyebutkan bahwa Luqman adalah seorang penjahit. Ada pula yang mengatakan dia adalah tukang kayu. Sebagian lagi menyebutkan bahwa beliau adalah penggembala. Dan adapula yang mengatakan bahwa beliau adalah seorang qadhi (hakim). Mengenai asalnya, ada yang menyebutkan bahwa beliau berasal dari Habasyah. Ada pula yang menyebutkan bahwa asalnya dari Sudan.
Lukman adalah seorang budak yang berkulit hitam. Ciri-ciri Lukman, bibirnya itu tebal dan kakinya pecah-pecah. Apa pekerjaaan, dari mana asalnya dan dia tidak memiliki rupa yang tampan tidaklah berpengaruh dan tidaklah penting. Seseorang mulia dengan takwa, sehingga tidaklah perlu minder dengan warna kulit dan asal daerah kita. Yang jelas beliau adalah seorang lelaki yang Allah ta’ala beri hikmah, sebagaimana disebutkan di dalam firman-Nya:
وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ
“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman.” (QS. Luqman: 12)
Allah ta’ala menyebutkan kepada kita di antara wasiat dan nasihat Luqman kepada anaknya di dalam Al Qur’an agar kita mendapat manfaat dan mengambil faidah darinya. Di antara pelajaran dan wasiat Luqman tersebut yaitu:
- Senantiasi bersyukur kepada Allah Ta’ala;
- Menjauhi kesyirikan;
- Jangan bersikap sombong;
- Ingatlah bahwa setiap amalan akan mendapat balasan;
- Dirikanlah shalat, beramar ma’ruf nahi mungkar, dan bersabar terhadap setiap cobaan;
- Bersikap tawadhu’ di hadapan manusia.
Inilah nasehat berharga dari Lukman Al-Hakim, seorang yang sholeh kepada anaknya. Nasehat-nasehat ini bisa dijadikan renungan bagi orang tua dan kaum muslimin pada umumnya, mana saja nasehat penting yang lebih utama diberikan kepada anak-anak kita.
Adik-adik jadikan nasehat itu salah satu makanan terbaik untuk ruh, jika datang nasehat-nasehat terbaik dari orangtua ataupun gurumu maka dengarkanlah. Semoga pada bulan Ramadhan yang mulia ini menjadikan kita termasuk orang-orang yang suka mendengarkan kebaikan. Sehingga Allah jadikan kita termasuk hamba-Nya yang bersyukur.
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِك
“Ya Allah tolonglah aku agar senantiasa berdzikir mengingatMu, serta senantiasa bersyukur kepada Engkau dan senantiasa memperbaiki amal ibadahku kepada Engkau.” (Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan sanad shahih)
Wallahu a’lam bisshowab…






WhatsApp