SDIK Imam An-Nawawi Aceh

  • Home
  • /
  • Serial Nasihat Ramadhan (21) – Pemaaf

Serial Nasihat Ramadhan (21) – Pemaaf

Ramadhan 21: Pemaaf

Adik-adik rahimakumullah, mari kita mengenal berbagai sifat terpuji selama bulan Ramadhan. Sifat terpuji dapat memudahkan kita dalam melakukan berbagai macam amal sholih. Pada hari ini kita akan mengetahui tentang sifat pemaaf. Yuk budayakan membaca sampai selesai supaya Allah ‘azza wa jalla memberkahi ilmu kita.

___________________________________________

Di setiap kehidupan manusia, pastilah kita akan melalui fase senang dan sedih. Adakalanya menginginkan bisa diperlakukan dengan sopan dan baik. Namun kenyataannya, kita merasakan kekecewaan. Misalnya, ada orang yang berhutang sudah jatuh tempo pembayaran dan saat itu peminjam juga membutuhkan uang tersebut, namun yang terjadi si peminjam kesulitan untuk menghubungi yang berhutang, apalagi mendapatkan kembali uang yang merupakan hak si peminjam. Selalu dijanjikan bahwa yang bersangkutan akan segera melunasi utangnya. Namun, janji hanyalah janji, dan lebih sering tidak ditepati.

Terkadang, aib kita dibuka dan disebarkan oleh teman dekat sendiri atau kita dipermalukan dengan suatu hal yang padahal itu sebuah kebenaran yang kita lakukan atau seseorang dengan mudahnya memarahi kita dengan kasar atas kesalahan kecil atau mungkin kita tidak salah atau diremehkan karena status ekonomi yang rendah atau karena rupa yang tidak menawan.

Sedih, sakit dan perih pasti dirasa oleh hati ini. Air matapun kadang tidak bisa dibendung. Ini adalah respon bahwa tidak ada manusia yang mau disakiti. Namun kita juga mengetahui dalam surah Al-Baqarah ayat 36 Allah ta’ala berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.”

Terus apa yang harus kita lakukan jika kondisi demikian menimpa kita? Allah menawarkan solusi terbaik yang ketika kita ikuti, maka tidak hanya menyelesaikan masalah namun juga mendatangkan kebahagian dunia dan akhirat.

Solusi dari Allah ta’ala adalah kita selalu bisa memaafkan kesalahan orang lain. Namun kita juga diperintahkan untuk memperbaikinya dengan doa dan menasehatinya dengan bijaksana.

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.” (Al-A’raf: 199)

Maafkanlah dia karena Allah, agar Allah memaafkan kita. Semoga hilanglah rasa dendam, kesalahan orang lain yang tak perlu kita tuntut di akhirat kelak. Allah ta’ala berfirman,

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nuur: 22)

Tahukah adik-adik, sifat pemaaf ini dapat memasukan kita ke dalam Surga-Nya. Terbukti ada seorang hamba Allah yang berulang kali Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam menyebutnya dihadapan para sahabat bahwa hamba Allah ini adalah seorang penduduk surga. Dikisahkan karena dia seorang yang pemaaf dan tidak menyimpan rasa dendam kepada sesama kaum muslimin. Berikut kisahnya:

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, “Kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau pun berkata, ‘Akan muncul kepada kalian sekarang seorang penduduk surga.’ Maka munculah seseorang dari kaum Anshar, jenggotnya masih basah terkena air wudhu, sambil menggantungkan kedua sendalnya di tangan kirinya. Tatkala keesokan hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan perkataan yang sama, dan munculah orang itu lagi dengan kondisi yang sama seperti kemarin. Tatkala keesokan harinya lagi (hari yang ketiga) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengucapkan perkataan yang sama dan muncul juga orang tersebut dengan kondisi yang sama pula. Tatkala Nabi berdiri (pergi) maka ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash mengikuti orang tersebut lalu berkata kepadanya, “Aku bermasalah dengan ayahku dan aku bersumpah untuk tidak masuk ke rumahnya selama tiga hari. Jika menurutmu aku boleh menginap di rumahmu hingga berlalu tiga hari?” Maka orang tersebut menjawab, “Silakan.”

“Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash bercerita bahwasanya ia pun menginap bersama orang tersebut selama tiga malam. Namun ia sama sekali tidak melihat orang tersebut mengerjakan shalat malam. Hanya saja jika ia terjaga di malam hari dan berbolak-balik di tempat tidur maka ia pun berdzikir kepada Allah dan bertakbir, hingga akhirnya ia bangun untuk shalat Shubuh. ‘Abdullah bertutur, ‘Hanya saja aku tidak pernah mendengarnya berucap kecuali kebaikan.”

“Dan tatkala berlalu tiga hari dan hampir saja aku meremehkan amalannya maka aku pun berkata kepadanya, ‘Wahai hamba Allah (fulan), sesungguhnya tidak ada permasalahan antara aku dan ayahku. Akan tetapi aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata sebanyak tiga kali bahwa akan muncul kala itu kepada kami seorang penduduk surga. Lantas engkaulah yang muncul, maka aku pun ingin menginap bersamamu untuk melihat apa sih amalanmu untuk aku teladani. Namun aku tidak melihatmu banyak beramal. Lantas apakah yang telah membuatmu memiliki keistimewaan sehingga disebut-sebut oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ Orang itu berkata, ‘Tidak ada kecuali amalanku yang kau lihat.’”

“Abdullah bertutur, tatkala aku berpaling pergi, ia pun memanggilku dan berkata bahwa amalannya hanyalah seperti yang terlihat, hanya saja ia tidak memiliki perasaan dendam dalam hati kepada seorang muslim pun dan ia tidak pernah hasad kepada seorang pun atas kebaikan yang Allah berikan kepada yang lain.’ Abdullah berkata, ‘Inilah amalan yang mengantarkan engkau (menjadi penduduk surga) dan inilah yang tidak kami mampui.” (HR. Ahmad)

Memaafkan termasuk tanda orang yang bertakwa.

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Mereka (orang-orang yang bertakwa) itu orang-orang yang menginfakkan hartanya baik di saat lapang maupun sempit, yang menahan amarah dan yang suka memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah cinta kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Ali ‘Imran: 134)

Wallahu a’lam bisshowab…

 

Leave Your Comment Here

WhatsApp WhatsApp