Ramadhan 22 : Tolong Menolong
Adik-adik rahimakumullah, mari kita mengenal berbagai sifat terpuji selama bulan Ramadhan. Sifat terpuji dapat memudahkan kita dalam melakukan berbagai macam amal sholih. Pada hari ini kita akan mengetahui tentang sifat tolong menolong. Yuk budayakan membaca sampai selesai supaya Allah ‘azza wa jalla memberkahi ilmu kita.
_________________________________________
Tak dipungkiri, manusia adalah makhluk sosial yaitu yang tidak bisa terlepas dari manusia yang lain. Artinya ia mutlak membutuhkan orang lain dalam setiap kehidupan.
Islam pun telah menggariskan etika sosial untuk menciptakan jalinan yang harmonis antar keluarga, kerabat, tetangga dan masyarakat luas. Sehingga kehidupan manusia terpenuhi dengan tasamuh (toleransi), ta’awun (tolong menolong) dalam kebaikan dan taqwa. Allah ta’ala berfirman,
وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (Al-Mâidah: 2)
Jangan pernah tolong menolong dalam berbuat dosa. Itu dapat membuka dosa jariyah (amalan buruk yang dilakukan oleh orang lain akibat ajakan atau pemberi contoh dan dia ikut mendapatkan dosa walau tidak melakukannya), Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
“Barangsiapa yang memberi petunjuk pada kejelekan, maka ia akan mendapatkan dosa dari perbuatan jelek tersebut dan juga dosa dari orang yang mengamalkannya setelah itu tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun juga.” (HR. Muslim no. 1017)
Ringan tangan (suka tolong-menolong) merupakan sifat paling menguntungkan untuk diri sendiri dan orang lain. Sifat ini mendatangkan kemudahan yang berujung pada keharmonisan dan keseimbangan dalam kehidupan. Manusia yang Allah ta’ala anugerahkan jiwa yang suka tolong menolong ini adalah rahmat dari Allah ta’ala. Maka sifat tolong menolong ini sangat dibutuhkan antara kaum muslimin. Bagaimana caranya jika kita mempunyai keinginan untuk menolong saudara kita akan tetapi mendapati jarak yang sangat jauh dengan kita?
Sebagaimana kita ketahui saat ini saudara kita dibelahan bumi lain sedang mengalami berbagai kesulitan. Terutama dalam menjalankan ibadahnya yang tidak bisa dilakukan dengan tenang dan aman. Mereka kadang melakukannya dengan sembunyi-sembunyi atau dalam keadaan penuh dengan rasa takut dan ancaman.
Maka cara yang paling efektif menolong sesama saudara baik yang dekat dan jauh adalah dengan menginfakkan sebagian harta terbaik kita kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan melalui lembaga-lembaga yang amanah. Apabila harta pun tidak dimiliki, maka panjatkan doa kepada saudara-saudara kita yang sedang ditimpa musibah agar mereka dimudahkan dalam melaluinya dan tetap istiqomah pada jalan yang benar. Sejatinya setiap kita menolong orang lain, sesungguhnya kita sedang menolong diri sendiri. Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang menghilangkan kesusahan dari kesusahan-kesusahan dunia orang mukmin, maka Allah akan menghilangkan kesusahan dari kesusahan-kesusahan pada hari kiamat. Barangsiapa yang memberi kemudahan orang yang kesulitan (utang), maka Allah akan memberi kemudahan baginya di dunia dan akhirat. Siapa yang menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat. Siapa saja yang menolong saudaranya, maka Allah akan menolongnya sebagaimana ia menolong saudaraya. Barangsiapa yang menempuh perjalanan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga. Tidaklah berkumpul sekelompok orang di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, rahmat meliputinya, para malaikat mengelilinginya, dan Allah menyanjung namanya kepada Malaikat yang ada di sisi-Nya. Barangsiapa yang lambat amalnya, maka tidak akan bisa dikejar oleh nasabnya (garis keturunannya yang mulia).” (HR. Muslim Muslim no. 2699)
Tahukah adik-adik, mengangkat kesulitan orang yang kesusahan, mengenyangkan yang lapar, melepaskan orang yang terlilit utang, membuat orang lain bahagia, keutamaannya itu lebih baik dari melakukan ibadah i’tikaf di Masjid Nabawi sebulan penuh. Sungguh ini adalah amalan yang mulia. Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh.” (HR. Thabrani di dalam Al Mu’jam Al-Kabir no. 13280, 12: 453. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al-Jaami’ no. 176)
Al-Hasan Al-Bashri pernah mengutus sebagian muridnya untuk membantu orang lain yang sedang dalam kesulitan. Beliau mengatakan pada murid-muridnya tersebut, “Hampirilah Tsabit Al Banani, bawa dia bersama kalian.” Ketika Tsabit didatangi, ia berkata, “Maaf, aku sedang i’tikaf.” Murid-muridnya lantas kembali mendatangi Al-Hasan Al-Bashri, lantas mereka mengabarinya. Kemudian Al-Hasan Al-Bashri mengatakan, “Wahai A’masy, tahukah engkau bahwa bila engkau berjalan menolong saudaramu yang butuh pertolongan itu lebih baik daripada haji setelah haji?”
Lalu mereka pun kembali pada Tsabit dan berkata seperti itu. Tsabit pun meninggalkan i’tikaf dan mengikuti murid-murid Al-Hasan Al-Bashri untuk memberikan pertolongan pada orang lain.
Kisah lain dari cicit nabi shalallahu’alaihi wa sallam, Ibnu ‘Uyainah, dari Abu Hamzah Ats-Tsimaali, ia berkata bahwa “Ali bin Al-Husain rahimahullah biasa memikul roti (gandum) di atas punggungnya ke rumah-rumah orang miskin di tengah kegelapan malam.” Ali berkata, “Sesungguhnya sedekah di tengah gelap malam itu akan meredam murka Rabb (Allah ta’ala).”
“Dulu penduduk kota tersebut hidup dan tidak mengetahui dari mana asal jatah roti tersebut. Ketika ‘Ali bin Al-Husain meninggal dunia, mereka tidak mendapatkan jatah roti itu lagi yang biasa mereka dapatkan tiap malam.”
“Ketika ‘Ali bin Al-Husain meninggal dunia, mereka mendapati di punggungnya itu ada bekas karena seringnya memikul kantong kulit pada malam hari ke rumah-rumah orang-orang yang susah. Ketika ‘Ali bin Al-Husain meninggal dunia, mereka dapati bahwa ‘Ali itu mencukupi nafkah seratus ahli bait.”
Ali bin Al-Husain adalah orang yang rajin sedekah, ia juga adalah orang yang rajin menolong orang lain dalam hal hutang.
Yuuk adik-adik, raih kesempatan emas dengan gemar menolong saudara kita dimanapun mereka berada selagi kita berada di bulan Ramadhan, saat ini pahalanya berlipat-lipat ganda Allah berikan. Jangan sampai tidak mendapat peluang emas ini. Karena syarat dan batas ketentuanya berlaku. Hanya Allah yang mampu memberi taufik.
Wallahu a’lam bisshowab…






WhatsApp