SDIK Imam An-Nawawi Aceh

  • Home
  • /
  • Serial Nasihat Ramadhan (23) – Semangat

Serial Nasihat Ramadhan (23) – Semangat

Ramadhan 23: Semangat

Adik-adik rahimakumullah, mari kita mengenal berbagai sifat terpuji selama bulan Ramadhan. Sifat terpuji dapat memudahkan kita dalam melakukan berbagai macam amal sholih. Pada hari ini kita akan mengetahui tentang sifat semangat. Yuk budayakan membaca sampai selesai supaya Allah ‘azza wa jalla memberkahi ilmu kita.

___________________________________________

Adik-adik, sekarang kita memasuki 10 hari terakhir Ramadhan teruslah bersemangat dalam mengisi hari-hari di Bulan Ramadhan dengan berbagai aktifitas ibadah. Salah satu amalan terbaik di bulan Ramadhan adalah semangat membaca Al-Quran. Bahagia bisa semangat melalui hari-hari Ramadhan bersama Al-Quran, karena ia kelak akan datang pada hari kiamat sebagai syafaat. Nabi Shallallau ‘alaihi wa sallam bersabda:

اقْرَؤوا القُرآنَ فإنه يأتي يومَ القيامةِ شفيعاً لأصحابهِ

“Bacalah Al Qur’an! Sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat senbagai pemberi syafa’at bagi pembacanya.” (H.R Muslim).

Wasiat dari Rasulullah kepada ummatnya adalah perintah untuk bersemangat dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat. Orang yang berakal akan menerima wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan semangat melakukan hal yang bermanfaat. Namun kebanyakan orang saat ini menyia-nyiakan waktunya untuk hal yang tidak bermanfaat. Bahkan kadangkala yang dilakukan adalah hal yang membahayakan diri sendiri dan agamanya. Waspadalah, boleh jadi penyebab tidak melaksanakannya karena tidak tahu atau karena menganggap remeh. Mukmin yang berakal dan mantap hatinya tentu akan melaksanakan wasiat dari Rasulullah, juga akan semangat melakukan hal yang bermanfaat bagi agama dan dunianya.

Kiat-kiat agar semangat beribadah:

  1. Memupuk rasa cinta kepada Allah;
  2. Melatih kekhusyukan;
  3. Mempelajari tuntunan Nabi dalam ibadah;
  4. Memaksa diri agar lama-lama jadi kebiasaan;
  5. Mencari teman yang rajin ibadah;
  6. Memperbanyak mengingat mati dan akhirat;
  7. Mulai dari yang sedikit tapi konsisten;
  8. Berdoa meminta taufik kepada Allah.

Kiat paling penting supaya bersemangat melakukan hal yang bermanfaat yaitu sering meminta tolong kepada Allah. Dengan kita selalu meminta tolong pada-Nya akan melahirkan rasa ketergantungan kepada Allah, sehingga jadi ringanlah dalam beramal. Walaupun permintaan itu dalam perkara yang sepele. Rasulullah shalallahu’alaihi wa salam bersabda,

لِيَسْأَلْ أَحَدُكُمْ رَبَّهُ حَاجَتَهُ كُلَّهَا حَتَّى يَسْأَلَ شِسْعَ نَعْلِهِ إِذَا انْقَطَعَ

“Hendaklah salah seorang di antara kalian meminta seluruh hajatnya pada Rabbnya, walaupun itu adalah meminta dalam hal tali sendal yang terputus.” (Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam musnadnya. Husain Salim Asad mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih berdasarkan syarat Muslim).

Nah, hari kita akan melihat beberapa potret semangat ulama salaf dalam menuntut ilmu. Semoga kisah-kisah mereka dapat membakar semangat kita dalam menuntut ilmu. Amiin…

Kisah Seorang yang Bersemangat Belajar Hadist Walau Dipukul

Dalam biografi Hisyam bin Ammar disebutkan bahwa dia pernah masuk kepada Imam Malik tanpa izin seraya mengatakan: “Ceritakanlah kepadaku hadits.” Imam Malik mengatakan: “Bacalah!” Hisyam berkata: “Tidak, yang saya ingin adalah engkau menceritakan kepadaku hadits.” Tatkala Hisyam sering mengulang-ngulang hal itu, maka Imam Malik mengatakan: “Wahai pelayan, pukullah dia sebanyak lima belas kali.” Pelayan pun memukul Hisyam lima belas kali lalu membawanya kepada Imam Malik. Hisyam berkata kepada Imam Malik: “Kenapa engkau menzholimiku? Engkau telah memukulku tanpa dosa yang kuperbuat. Aku tidak menghalalkanmu.” Imam Malik berkata: “Terus, apa tebusannya?” Hisyam menjawab: “Tebusannya adalah engkau menceritakan kepadaku lima belas hadits.” Maka beliau pun menceritakan lima belas hadits kepada Hisyam. Hisyam berkata lagi kepada Imam Malik: “Tolong tambahi lagi pukulannya sehingga Anda menambahi lagi hadits untukku.” Mendengar itu, Imam Malik tertawa seraya mengatakan: “Pergilah kamu.” (Siyar A’lam Nubala 3/4093 oleh adz-Dzahabi, cetakan Baitul Afkar)

Kisah Semangat Menulis yang Menakjubkan

As-Sam’ani menceritakan bahwa Imam al-Baihaqi pernah tertimpa penyakit di tangannya, sehingga jari-jemarinya dipotong semua, hanya tinggal pergelangan tangan saja. Sekalipun demikian, beliau tidak berhenti dari menulis, beliau mengambil pena dengan pergelangan tangannya dan meletakkan kertas di tanah seraya memeganginya dengan kakinya, lalu menulis dengan tulisan yang indah dan jelas. Demikianlah hari-harinya, sehingga setiap hari dia dapat menulis dengan tangannya kurang lebih sepuluh lembar. “Sungguh, ini adalah pemandangan sangat menakjubkan yang pernah saya lihat darinya,” kata as-Sam’ani. (at-Tahbir fil Mu’jam Kabir 1/223)

Termasuk semangat yang menakjubkan pula adalah semangat Imam Ibnu Aqil yang telah menulis sebuah karya terbesar di dunia yaitu al-Funun. Tahukah Anda berapa jilid kitab tersebut? Sebagian mengatakan sebanyak 800 jilid dan ada yang mengatakan 400 jilid. Imam adz-Dzahabi berkata: “Belum pernah ada di dunia ini kitab yang lebih besar darinya. Seseorang pernah menceritakan kepadaku bahwa dia pernah mendapati juz yang empat ratus lebih dari kitab tersebut.” (Tarikh Islam 4/29)

Sekalipun demikian besarnya kitab ini, tetapi sayangnya kitab ini termasuk perbendaharan umat Islam yang hilang, belum diketahui sampai sekarang kecuali hanya satu jilid saja yang ditemukan di perpustakaan Paris dan dicetak dalam dua jilid pada tahun 1970–1971. (Muqoddimah Kamil Muhammad Khorroth terhadap Zahrul Ghushun min Kitabil Funun hlm. 6)

Kisah Seorang yang Berkali-Kali Khatam Kitab, Tidak Bosan

Al-Muzani berkata: Saya membaca kitab ar-Risalah karya asy-Syafi’i sejak lima tahun yang lalu, setiap kali aku membacanya saya mendapatkan faedah baru yang belum aku dapatkan sebelumnya.” (Manaqib Syafi’i hlm. 114 oleh Al-Aburri)

Ibnu Basykuwal menceritakan bahwa, “Abu Bakr bin Athiyyah mengulang-ngulang membaca kitab Shohih Bukhori sebanyak 700 kali.” (Ash-Shilah 2/433)

Disebutkan dalam biografi Abbas bin Walid al-Farisi bahwa ditemukan dalam sebagian akhir kitabnya suatu tulisan: “Saya telah membacanya sebanyak 1.000 kali.”  (Thobaqot Ulama Afrika wa Tunis hlm. 224)

Abdulloh bin Muhammad, ahli fiqih dari Irak, beliau pernah membaca kitab al-Mughni karya Ibnu Qudamah (sekarang tercetak dengan 15 jilid) sebanyak 23 kali. (Dzail Thobaqot Hanabilah 2/411)

Kisah Mengusir Kantuk Dengan Semangat Membaca

Ibnul Jahm berkata: “Apabila kantuk menyerangku pada selain waktu tidur, maka saya segera mengambil kitab hikmah, lalu saya mendapati hatiku berbunga-bunga kegirangan ketika mendapatkan ilmu.” (Al-Hayawan 1/53 oleh Al-Jahidz)

Subhanalloh, bandingkan hal ini dengan perbuatan sebagian dari kebiasaan kaum muslimin saat ini yang membacakan kisah kepada anak-anaknya justru dengan niat sebagai pengantar tidur.

Adik-adik ketahuilah, mereka sangat bersemangat dalam menuntut ilmu, rasa cinta terhadap ilmu terpatri dalam jiwa sehingga terlihat dalam keseharian. Mereka meninggalkan keinginan dirinya dan berjuang melawan hawa nafsunya demi menuntut ilmu dan menjaga semangat tersebut agar tidak luntur. Patut jiwa ini cemburu dan ikut meneladani mereka yang begitu memuliakan ilmu dengan menjaga semangat menuntut ilmu. Sikap yang harus kita jauhi adalah datangnya rasa malas menghadiri majelis ilmu dengan berbagai macam alasan. Seperti, “maaf saya lagi sibuk”, atau “maaf saya lagi banyak urusan”, dan sebagainya.

اَللَّهُمَّ انْفََ؟عْنِيْ مَا عَلَّمْتَنِيْ وَعَلِّمْنِيْ مَا يَنْفَعُنِيْ وَزِدْنِيْ عِلْماً

“Ya Allah, berilah manfaat atas apa yang Engkau ajarkan kepadaku, ajarilah aku hal-hal yang bermanfaat bagiku, dan tambahilah aku ilmu.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dishahihkan Al-Albani).

Wallahu a’lam bisshowab…

Leave Your Comment Here

WhatsApp WhatsApp