SDIK Imam An-Nawawi Aceh

  • Home
  • /
  • Serial Nasihat Ramadhan (25) – Khusyuk

Serial Nasihat Ramadhan (25) – Khusyuk

Ramadhan 25: Khusyuk

Adik-adik rahimakumullah, mari kita mengenal berbagai sifat terpuji selama bulan Ramadhan. Sifat terpuji dapat memudahkan kita dalam melakukan berbagai macam amal sholih. Pada hari ini kita akan mengetahui tentang sifat khusyuk. Yuk budayakan membaca sampai selesai supaya Allah ‘azza wa jalla memberkahi ilmu kita.

__________________________________________

Khusyuk secara bahasa berarti tenang dan tunduk. Sedangkan secara istilah khusyuk adalah tenangnya hati dan rasa tunduk dihadapan Allah yang terlihat dalam amal anggota badan. Khusyuk inilah perkara terpenting dalam shalat. Allah ta’ala berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ , الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1-2)

Khusyuk itu cepat sekali hilang, terlebih lagi pada zaman ini. Dalam hadits Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أوَّلُ شَيءٍ يُرفعُ مِن هذِهِ الأمَّةِ الخُشوعُ حتَّى لا تَرى فيها خاشِعًا

“Perkara yang pertama kali diangkat dari umat ini adalah khusyuk sampai tak terlihat orang yang khusyuk di dalam shalatnya.” (HR. Ath-Thabrani, dengan sanad hasan)

Walaupun sah shalat yang di dalamnya tidak ada khusyuk dan tidak menghadirkan hati, tetapi besarnya pahala dilihat dari makin khusyuknya kita di dalam shalat. Dari ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنَّ الرَّجلَ لينصَرِفُ وما كُتِبَ لَهُ إلَّا عُشرُ صلاتِهِ تُسعُها ثُمنُها سُبعُها سُدسُها خُمسُها رُبعُها ثُلثُها نِصفُها

“Ada yang selesai dari shalatnya, tetapi ia hanya mendapatkan sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, dan separuhnya.” (HR. Abu Daud)

Kiat-kiat untuk meraih khusyuk di dalam ibadah sholat antara lain:

  1. Melakukan hal-hal yang menguatkan khusyuk dengan meyakini dan menghadirkan dalam hati bahwa kita sedang menghadap Allah ta’ala;
  2. Menghilangkan hal-hal yang melemahkan khusyuk seperti gangguan-gangguan yang dapat menghilangkan kekhusyukan, seperti waswashah (godaan setan);
  3. Menirukan ucapan muazzin dapat mengundang khusyuk dalam shalat;
  4. Ketika kita shalat dengan khusyuk, kita benar-benar merasa takut kepada Allah dan kita berusaha untuk merasakan kenikmatan shalat itu, maka shalat itu benar-benar akan mempengaruhi hati kita. Maka disaat itulah shalat akan memberikan kepada kita kekuatan untuk meninggalkan perkara yang keji dan mungkar. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ

“Sesungguhnya shalat itu dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)

Adik-adik, jika rasa khusyuk dalam sholat belum hadir, maka teruslah mencobanya. Kisah dari Urwah bin Zubair mungkin bisa menjadi salah satu semangat kita dalam meraih kekhusyukan dalam ibadah. Karena kita bisa melihat dampak dan manfaat dari hadirnya kekusyukan dalam setiap ibadah.

Kisah ‘Urwah bin Zubair yang khusyuk berzikir saat menjalani operasi amputasi kakinya.

Beliau lahir satu tahun sebelum berakhirnya masa khilafah al-Faruq radhiyallahu ‘anhu di dalam sebuah rumah yang paling mulia di kalangan kaum muslimin dan paling luhur martabatnya.

Adapun ayahnya bernama Zubair bin Awwam, “Al-Hawari” (pembela) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang pertama yang menghunus pedangnya dalam Islam serta termasuk salah satu diantara sepuluh orang yang dijamin masuk surga. Sedangkan ibunya bernama Asma binti Abu Bakar Ash-Shidiq yang dijuluki dzatun nithaqain (pemilik dua ikat pinggang).

Kakek beliau dari jalur ibu adalah Abu Bakar ash-Shidiq, khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menemani beliau di sebuah goa. Sedangkan nenek dari jalur ayahnya adalah Shafiyah binti Abdul Muthalib yang juga bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bibinya adalah Ummul Mukminin, bahkan dengan tangan ‘Urwah bin Zubair sendirilah yang turun ke liang lahat untuk meletakkan jenazah ummul Mukminin.

‘Urwah bin Zubair radhiyallahu ‘anhu adalah seorang yang ringan tangan, longgar dan dermawan. Di antara bukti kedermawanannya itu adalah manakala beliau memiliki sebidang kebun yang luas di Madinah dengan air sumurnya yang tawar, pepohonan yang rindang serta buahnya yang lebat. Beliau pasang pagar yang mengelilinginya untuk menjaga kerusakannya dari binatang-binatang dan anak-anak yang usil. Hingga tatkala buah telah masak dan membangkitkan selera bagi yang memandangnya, dibukalah beberapa pintu sebagai jalan masuk bagi siapapun yang menghendakinya.

Begitulah, orang-orang keluar masuk kebun ‘Urwah sambil merasakan lezatnya buah-buahan yang masak sepuas-puasnya dan membawa sesuai dengan keinginannya. Setiap memasuki kebun, beliau mengulang-ulang firman Allah:

وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاء اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

“Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “maasyaa allah, laa quwwata illaa billah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).” (QS. Al-Kahfi: 39)

Suatu masa di zaman khilafah Al-Walid bin Abdul Malik, Allah berkehendak menguji ‘Urwah dengan suatu cobaan yang tak seorang pun mampu bertahan dan tegar selain orang yang hatinya subur dengan keimanan dan penuh dengan keyakinan.

Tatkala amirul mukminin mengundang ‘Urwah untuk berziarah ke Damaskus. Beliau mengabulkan undangan tersebut dan mengajak putra sulungnya. Amirul Mukminin menyambutnya dengan gembira, memperlakukannya dengan penuh hormat dan melayaninya dengan ramah.

Kemudian datanglah ketetapan dan kehendak Allah subhanahu wa ta’ala, laksana angin kencang yang tak dikehendaki penumpang perahu. Putra Urwah masuk ke kandang kuda untuk melihat kuda-kuda piaraan pilihan. Tiba-tiba saja seekor kuda menyepaknya dengan keras hingga menyebabkan kematiannya.

Belum lagi tangan seorang ayah ini bersih dari tanah penguburan putranya, salah satu telapak kakinya terluka. Betisnya tiba-tiba membengkak, penyakit semakin menjalar dengan cepatnya. Kemudian bergegaslah Amirul Mukminin mendatangkan para tabib dari seluruh negeri untuk mengobati tamunya dan memerintahkan mereka untuk mengobati ‘Urwah dengan cara apapun. Namun para tabib itu sepakat untuk mengamputasi kaki ‘Urwah sampai betis sebelum penyakit menjalar ke seluruh tubuh yang dapat merenggut nyawanya.

Jalan itu harus ditempuh. Tatkala ahli bedah telah datang dengan membawa pisau untuk menyayat daging dan gergaji untuk memotong tulangnya, tabib berkata kepada ‘Urwah: “Sebaiknya kami memberikan minuman yang memabukkan agar Anda tidak merasakan sakitnya diamputasi.” Akan tetapi Urwah menolak, “Tidak perlu, aku tidak akan menggunakan yang haram demi mendapat afiat (kesehatan).” Tabib berkata, “Kalau begitu kami akan membius Anda!” Beliau menjawab, “Aku tidak mau diambil sebagian dari tubuhku tanpa kurasakan sakitnya agar tidak hilang pahalanya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.”

Ketika operasi hendak dimulai, beberapa orang mendekati ‘Urwah, lalu beliau bertanya, “Apa yang hendak mereka lakukan?” Lalu dijawab, “Mereka akan memegangi Anda, sebab bisa jadi Anda nanti merasa kesakitan lalu menggerakan kaki dan itu bisa membahayakan Anda.” Beliau berkata, “Cegahlah mereka, aku tidak membutuhkannya. Akan kubekali diriku dengan dzikir dan tasbih.”

Mulailah tabib menyayat dagingnya dengan pisau dan tatkala mencapai tulang, diambillah gergaji untuk memotongnya. Sementara itu ‘Urwah tak henti-hentinya mengucapkan, “Laa ilaaha Illallah Allahu Akbar,” sang tabib terus melakukan tugasnya dan ‘Urwah juga terus bertakbir hingga selesai proses amputasi itu.

Setelah itu dituangkanlah minyak yang telah dipanaskan mendidih dan dioleskan di betis ‘Urwah bin Zubair untuk menghentikan pendarahan dan menutup lukanya. ‘Urwah pingsan untuk beberapa lama dan terhenti membaca ayat-ayat Alquran di hari itu. Inilah satu-satunya hari di mana beliau tidak bisa melakukan kebiasaan yang beliau jaga semenjak remajanya.

Ketika ‘Urwah tersadar dari pingsannya, beliau meminta potongan kakinya. Dibolak-baliknya sambil berkata, “Dia (Allah) yang membimbing aku untuk membawamu di tengah malam ke masjid, Maha Mengetahui bahwa aku tak pernah menggunakannya untuk hal-hal yang haram.”

‘Urwah hidup hingga usia 71 tahun. Hidupnya penuh dengan kebajikan, kebaktian, dan diliputi ketaqwaan. Ketika dirasa ajalnya sudah dekat dan dia dalam keadaan berpuasa, keluarganya mendesak agar beliau mau makan, tetapi beliau menolak keras karena ingin berbuka di sisi Allah subhanahu wa ta’ala dengan minuman dari telaga Al-Kautsar.

Maasya Allah, sungguh kelezatan dari khusyuk diraih oleh ‘Urwah bin Zubair disaat terberat sekalipun. Dan ini tidak diraih dengan mudah begitu saja. Ada proses panjang yang rutin dilakukan serta dilewati dengan sabar dan patuh. Sabar dalam ibadah dan sabar menjauhi maksiat. Kemudian senantiasa patuh atas perintah dan larangan dari Allah ta’ala.

Ramadhan menjadi moment terbaik untuk kita melatih kekhusyukan. Semoga Allah juga menganugerahkan kepada kita, keturunan kita dan kaum muslimin seluruhnya dimudahkan khusyuk dalam setiap ibadah yang dilakukan.

Wallahu a’lam bisshowab…

Leave Your Comment Here

WhatsApp WhatsApp