SDIK Imam An-Nawawi Aceh

  • Home
  • /
  • Serial Nasihat Ramadhan (26) – Cerdas

Serial Nasihat Ramadhan (26) – Cerdas

Ramadhan 26: Cerdas

Adik-adik rahimakumullah, mari kita mengenal berbagai sifat terpuji selama bulan Ramadhan. Sifat terpuji dapat memudahkan kita dalam melakukan berbagai macam amal sholih. Pada hari ini kita akan mengetahui tentang sifat cerdas. Yuk budayakan membaca sampai selesai supaya Allah ‘azza wa jalla memberkahi ilmu kita.

___________________________________________

Ulama mengatakan bahwa orang cerdas itu bukan hanya bisa membedakan baik dan buruk saja, tetapi mampu memilih dan memprioritaskan mana yang paling baik di antara yang baik serta mampu membedakan mana yang paling buruk di antara yang buruk. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata,

ﺑﺄﻧﻪ ﻟﻴﺲ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻘﻞ ﺃﻥ ﻳﻌﻠﻢ ﺍﻟﺨﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﺮ ﻓﻘﻂ، ﺑﻞ ﻳﺠﺐ ﺃﻥ ﻳﻌﻠﻢ ﺧﻴﺮ ﺍﻟﺨﻴﺮﻳﻦ, ﻭﺷﺮ ﺍﻟﺸﺮﻳﻦ

“Bukanlah orang yang cerdas (berakal) yang hanya tahu (membedakan) baik dan buruk saja, tetapi wajib mengetahui yang terbaik dari dua kebaikan dan mengetahui yang terburuk dari dua keburukan.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah)

Hidup tidak selamanya mulus dan lancar, ada kalanya pilihan pahit yang harus dipilih dari beberapa pilihan buruk lainnya, maka orang cerdas akan memilih menghindari yang paling buruk.

Seperti yang kita ketahui bersama, kondisi saat ini, perkembangan teknologi informasi pada si kecil membuat orangtua resah karena mengubah perilaku komunikasi anak, anak menjadi pribadi tertutup, gangguan tidur, suka menyendiri, perilaku kekerasan, pudarnya kreativitas, dan ancaman cyberbullying. Maka bagi orangtua di zaman ini mengajarkan anak mencintai Al-Quran merupakan pilihan yang cerdas dan tepat.

Karena kecerdasan dan kestabilan emosi si kecil juga bisa di dapatkan dengan menjadikan dia mencintai Al-Qur’an dan orangtua berusaha sebaik mungkin untuk memberikan bimbingan supaya dia mampu meraih kemuliaan hidup bersama Al-Qur’an dengan mengajarkan membacanya, mengahafalkan ayat demi ayat, memahamkan maknanya, serta menjadikannya bahagia dengan Al-Qur’an. Dengan mengajarkan Kitabullah dan menegakkan shalat sejak dini ia akan tumbuh selaras dengan fitrahnya.

Anak yang cerdas memiliki kemampuan berpikir yang cepat dan tepat. Ia akan terlihat sangat praktis dalam mengetahui sesuatu dan meresponnya dengan baik. Seiring bertambahnya usia, si Kecil juga akan menguasai suatu pelajaran dengan cepat.

Walaupun kemampuan dan kecerdasan si kecil memang tidak sama, namun ketika orangtua memiliki niat dan cita-cita yang tinggi untuk memberikan yang terbaik untuk buah hati, insya Allah akan dimudahkan Allah subhanahu ta’ala. Meskipun mereka bukan seperti Asy-Syafi’i yang hafal Al-Qur’an sejak usia tujuh tahun atau Ibnu Abbas yang saat usianya masih kecil telah hafal ayat-ayat muhkam. Dan jangan pernah lupakan berdo’a kepada Allah ta’ala agar kita diberi kekuatan dan kemudahan dalam mendidik anak.

Menghafal Kitabullah di usia dini lebih terpatri dalam ingatan dan lebih kokoh hafalannya karena fitrahnya masih polos dan belum banyak permasalahan yang dihadapinya.

Sehingga harapan kita bersama sebagai orangtua dan pendidik dapat terwujud yaitu anak-anak muslim menjadi anak-anak yang cerdas dengan iman yang kokoh, sehingga mampu mengambalikan kejayaan Islam. Karena hidup paling mulia adalah dengan Islam, hidup paling mulia adalah dengan menegakkan hukum-hukum Islam, dan hidup paling mulia adalah dibawah naungan Islam.

Adik-adik, mari mengenal salah satu tokoh paling cerdas dari kaum Quraisy yang dijuluki si pemilik pemikiran cemerlang dikalangan bangsa arab. Dia adalah ‘Amr bin Al-‘Ash, dengan kuniyah Abu Abdullah atau Abu Muhammad. Ia adalah seorang pedagang yang biasa bersafar ke Syam, Yaman, Mesir, dan Habasyah. ‘Amr bin Al-‘Ash memiliki bakat alamiah yang komplit, seorang penunggang kuda yang mahir, termasuk di antara kesatrinya kaum Quraisy, negosiator ulung, dan ia juga seorang penyair yang puitis dan fasih bahasanya. Tidak heran, mengapa orang-orang Quraisy mengirimnya untuk melobi an-Najasyi agar mengembalikan orang-orang Mekah yang hijrah ke Habasyah.

‘Amr merupakan salah seorang pahlawan bangsa Arab yang sangat terkenal, sekaligus seorang politisi yang cemerlang. Terkenal dengan kecerdasan dan kepintarannya mengatur siasat.

‘Amr bin Al-‘Ash masuk Islam pada tahun 8 H setelah kegagalan Quraisy dalam perang Ahzab dan enam bulan sebelum penaklukkan Kota Mekah. Saat itu ia datang bersama Khalid bin Walid dan Utsman bin Thalhah ke Kota Madinah. Ketika tiga orang ini menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Rasulullah menatap ketiganya, lalu bersabda, “Mekah telah memberikan putra terbaiknya untuk kalian (umat Islam).”

Di masa keislamannya, Rasulullah dekat kepadanya dan mendidiknya dengan pendidikan tauhid yang murni. Rasulullah tahu, ‘Amr adalah orang yang istimewa, terkenal dengan keberanian dan bakat-bakat lainnya.

Rasulullah mengutus kepadanya seorang utusan yang membawa pesan, “Bawalah pakaian dan senjatamu, lalu temuilah aku.” ‘Amr mengatakan, “Lalu aku menemui beliau yang saat itu sedang berwudhu. Beliau menatapku lalu menganguk-anggukkan kepalanya.” Setelah itu beliau bersabda, “Sesungguhnya aku hendak mengutusmu berperang bersama pasukan. Semoga Allah menyelamatkanmu, memberikan ghanimah, dan aku berharap engkau mendapat harta yang baik.” ‘Amr menanggapi, “Wahai Rasulullah, aku masuk Islam bukan untuk mencari harta, akan tetapi aku berislam karena aku mencintai agama ini dan menjadi salah seorang yang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (sahabatmu).” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Amr, sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki orang yang shaleh.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya No.17798 dan Hakim No.2926)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ عَمْرَو بْنَ العَاصِ مِنْ صَالحِي قُرَيْشٍ

“Sesungguhnya Amr bin al-Ash adalah di antara orang-orang yang baik dari kalangan Quraisy.” (HR. Tirmidzi dalam Sunan-nya no.3845).

Ini adalah persaksian dari manusia yang paling mulia, yang perkataannya adalah wahyu yang tidak didustakan, atas keimanan ‘Amr bin Al-‘Ash. Rasulullah sangat mencintai dan mengagumi kemampuan ‘Amr bin Al-‘Ash, terbukti dengan beliau mengangkatnya sebagai pimpinan pasukan perang Dzatu Salasil dan mengangkatnya sebagai amir wilayah Oman sampai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat.

Maasya Allah… Yuuk, kita jadi muslim yang cerdas supaya kecerdasan kita juga bisa bermanfaat bagi diri kita, keluarga, dan umat islam pada umumnya.

Wallahu a’lam bisshowab…

Leave Your Comment Here

WhatsApp WhatsApp